Beranda » Opini » Kekerasan Teologis

Senin, 11 Januari 2021 - 06:50:40 WIB
Kekerasan Teologis
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 85 kali

Kekerasan Teologis

Oleh: Masud  HMN*)

Mendiskusikan  Kejayaan Islam wal muslimin dan Kekerasan  teologis dalam arti  tafsir  kebenaran mutlak dalam intern agama adalah dua konsep yang tidak mungkin  bisa  disatukan. Ibarat air dan minyak. Bersinggungan namun tidak bersatu, sampai kapanpun. Kata Izzul Islam wal  Muslimin atau kejayaan Islam dan umatnya  adalah  cita cita perjuangan  umat Islam. Bagi bangsa Indonesia  ini sudah  ditorehkan  para  pahlawan dan pendiri  bangsa sebelum proklamasi
 
Sementara kata  kekerasan teologis   adalah  pandangan hukum islam, sikap memvonis  kepada  pihak lain dengan hitam putih. Kebenaran absolut menurut fahamnya sendiri, Seperti  mengkafirkan satu pihak yang tidak  sepaham. Termasuk narasi  intolerasi dan radikalis bagi yang tak sepaham. Ini yang banyak terjadi  belakangan ini.
 
Jadi pada  konteks ini, cita cita  perjuangan umat Islam bila  dikonfrontir dengan  teologi kekerasan,  serta stigmatisasi karena perbedaan dalam paham teologis, jelas  sebuah masalah yang serius, karena  tidak ada ujung dan jalan keluarnya. Secara  kasat mata  kita  bisa melihat Timur Tengah dengan   Arab Springnya, konflik yang berkepanjangan yang berbasis  kekerasan Teologis, Saling mengkafirkan, saling menuduh antara satu dan lain. Sungguh  satu ironi sejarah abad ini.

Untuk solusi hal diatas,  mungkin bisa diusulkan pembangunan akhlak  mulia, Baik dalam bidang  keumatan secara kultural maupun  bidang siyasah kutural.  Mengapa demikian? Karena Kondisi tersebut,  yakni Kejayaan  atau Islam berkemajuan banyak halangan dan hambatannya yang  bersumber  dari problem kulural dan siyasah. Seperti masalah Akhlak Islamiyah. Tiada  kejayaan Islam tanpa akhlak dan  siyasah.  Dua faktor ini agaknya menjadi kunci permasalahan dan merupakan  faktor dominan. 

Secara narasi  penelitian kejayaan  adalah tujuan  factor terikat. Sementara  Akhlak adalah factor bebas.
Singkat kata, dengan demikian  Kejayaan Islam ditentukan oleh faktor  Akhlak. Semakin  positif  sumbangan  factor akhlak semakin  maksimal tercapai tujuan. Sebaliknya jika negative  atau gagal sumbangan  akhlak, semakin gagal  pencapaian kejajaan Islam.

Persoalan diatas bisa dibentangkan sebagai berikut:
Pertama, yaitu adanya persoalan  karena  kegagalan dalam bidang akhlak, dimana Akhlak  dapat diartikan sebagai perilaku yang baik, jujur dan amanah. Sedangkan bidang siayasah  atau politik, tanpa akhlak  mencerminkan perpecahan, sikut menyikut antar sesama.  Jauh dari istiqamah dan lupa diri. Padahal agama memberi arah agar  istiqamah dan persatuan dapat diwujudkan.

Kedua, ketidak berhasilan dalam siyasah. Kita gagal membangun ta'aruf, kita  membiarkan hoaks dan berita  bohong serta fitnah. Padalhal kita diajarkan ta'aruf ( berkenalan) atau saling tegur sapa, saling cek dan ricek tentang  suatu kebenaran informasi, dan saling nasihat menasihati dalam dalam hal kebenaran dan kesabaran.

Dua sisi ini ibarat satu mata uang, tidak bisa dipisahkan,  Disitu Kita mengalami persoalan berat yang harus diselesaikan agar  tujuan  dari Kejayaan  islam wal muslimin tercapai. Yang  lain boleh diurus belakangan.

Ini membawa  kesimpulan  bahwa  ada  dua  faktor  penentu umat Islam  dalam menuju masa depannya, Tanpa itu  kita akan gagal dan hina dihadapan mahkamah sejarah. Pertanyannya bagaimana upaya yang harus dilakukan?

Hemat penulis adalah bagaimana peran maksimal dalam mengimlementasikan  akhlak mulia tersebut secara konsisten.. Dengan  pemahaman dan aplikasi di lapangan, dapat mengatasi persoalan akhlak. Hak ini juga menjadi Satu paket kemasan fatwa yaitu: menegakkan  ahklak mulia dan memasyrakatkan   ukhuwah Islamiyah.
 
Kita tidak dapat membayangkan  apa yang akan terjadi pada masa depan jika  masyrakat tanpa akhlak.  Mungkin ini  dapat  menjadi Pesan  kepada organisasi Islam, umat dan bangsa ini, Kajayaan Islam dan umatnya jauh dari teologi kekerasan .Semoga!.

Jakarta 10 Januari 2021

*) Masud HMN adalah Doktor,  Dosen Pascasarjana Universitas Muhammdiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta.

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)