Beranda » Budaya » Menyemangati Tradisi Menulis

Selasa, 08 September 2020 - 18:59:45 WIB
Menyemangati Tradisi Menulis
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Budaya - Dibaca: 169 kali

Menyemangati Tradisi Menulis

"Verba Volant Scripto Manent (Apa yang diucapkan akan  lenyap apa yang dituliskan akan abadi)".  Pepatah Latin.

Oleh:  Dr Masud HMN *)

Mekipun pepatah kuno latin ini tidak lagi berlaku penuh, karena ucapan terekam dan menjadi  abadi juga sama dengan  abadinya tulisan,  namun tradisi menulis  tidak hilang urgensinya.

Tulisan mengawal perjalanan sejarah. Tulisan  berfungsi untuk  ekpresi diri bangsa, tulisan   berguna  untuk integrasi bangsa, tulisan juga  berguna  untuk pembangunan  karakter budaya bangsa. Jadi, ucapan dengan alat rekam tidak menghapus esensi tulisan. Keduanya baik  ucapan dan tulisan  seiring  membuat sesuatu menjadi abadi. Menjadi  urgen  di langit  zaman.

Terkait pada  tradisi menulis pada  judul tulisan ini, saya  merasa  tersentak oleh  ucapan Prof Rokhmin Dahuri seorang intelektual  asal Institut Pertanian Bogor (IPB) kini  guru besar kelautan, kepada saya agar terus menulis. Ucapan itu diucapkan  saat bertemu di kantornya di Kementerian Kelautan ketika saya menyerahkan  buku saya setebal 300 halaman berjudul  "Essay Politik dan Moral Bangsa"  berasal dari kumpulan artikel saya di pelbagai Surat Kabar dan Media Online rentang waktu tiga tahun ini.

Pak Rokhmin, panggilan akrabnya mengingat sudah lama saya  kenal, beliau  menjatikan dirinya  dalam istilah Urang Semando. Ia beristeri asal Minang  sementara  ia sendiri  berasal dari Cirebon. Amat jelas  ia  concern pada  gagasan kelautannya. Profesor  yang satu ini amat giat  dan terus menulis ilmunya tentang gagasan Kelautan dan Perikanan.
 
Tak salah kalau Harian Merdeka Agustus  tahun lalu  untuk mewancarainya  panjang lebar tentang  keinginannya untuk tetap menulis. Ya, saya akan  terus melanjutkan  tradisi saya untuk nenulis, katanya.

Gagasan besar yang ingin dibangunkan bagi bangsa Indonesia nampaknya urgen dan sangat relevan, dimana bangsa harus  kembali  ke budaya  dasarnya  kelautan dan tanah.  Tanah  sudah diekplorasi  berupa industri  pabrik, gedung pencakar  langit. Sementara  laut  dengan potensi ikan , mineral dasar laut, jalur transportasi belum tergarap sebagai mana mestinya. Itulah gagasan besarnya  yang dimanifesatasi lewat tulisan.

Sekali lagi, tulisan penting  untuk pembangunan  gagasan yang bermakna. Dalam hal itu  setidaknya  ada  dua  hal yang  perlu  yaitu pembangunan berbasis  ekonomi dan gagasan berbasis  agama dan kebudayaan.
 
Pertama, gagasan pembangunan ekonomi. Menginat  tanpa ekonomi berkemajuan  kita tidak punya  masa depan. Ini  harus diwujudkan investasi, pembangunan  pasar, dan tenaga  kerja.

Kedua,  gagasan pembangunan moral berbasis  agama kebudayaan, dan ilmu. Tanpa  gagasan  yang berbasis  moral  kita  tidak sukses  membangun masa depan. Ini memerlukan   gagasan yang terkawal dengan baik. Tentu saja ini semua mengacu pada konstitusi dan kebijakan pemerintah. Namun demikian, kita  harus  mengawal gagasan  tersebut.  Caranya  dengan menulis gagasan untuk memperkaya dan mengawal pembangunan masa depan bangsa.

Banyak gagasan  ditulis  para  intelektual kita. Sebutlah Bung Hatta dengan buku Demokrasi Kita, kemudian  Buya Hamka meninggalkan karya  Tafsir Al Azhar tentang urusan moral  agama, Kasman Singodimejo dengan  buku Hidup itu Berjuang, Hamengkubuwono ke 1X Tahta Untuk  Rakyat, Mohtar Lubis  dengan karya  Manusia Indonesia.

Akhirnya,  marilah kita lestarikan Tradisi Menulis yamg terarah  pada gagasan besar untuk masa depan Indonesia berkemajuan. Tulisan menjadi karya  yang tertorehkan dalam sejarah berkekalan dilangit  zaman. Semoga.

Jakarta 6 September 2020

*) Penulis, Dr. Masud HMN adalah Dosen Pascasarjana Univesitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta.

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)