Beranda » Olahraga » FP3I dan Trend Medsos Saat ini

Minggu, 02 Agustus 2020 - 21:34:47 WIB
FP3I dan Trend Medsos Saat ini
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Olahraga - Dibaca: 87 kali

Jakarta,-Melayutoday.com,-Saat ini kontribusi informasi (pesan-pesan) tak kondusif memenuhi ruang-ruang media kita baik elektronik, cetak maupun lainnya karena pesatnya kemajuan ilmu dan teknologi yang kian tak terbendung. Ditambah lagi merebaknya penggunaan android sehingga pesan pesan di medsos semakin

Kemudian dibebeni lagi tumpukan persoala-persoalan yang menerpa bangsa ini yang tiada henti mulai dari kasus-kasus korupsi, stigma radikalisme dan terorisme yang terus menggema, membengkaknya pengangguran, termasuk pengangguran terpelajar dan pengangguran intelektual serta kemiskinan ditengah melimpah ruahnya kekayaan alam yang kita miliki.

Berangkat dari realitas kondisi seperti ini beberapa orang  jurnalis membentuk wadah yang diberi nama Forum Pengembangan Pewarta Profesional Indonesia (FP3I) sebagai wadah berdiskusi dan menyampaikan gagasan-gagasan demi menemukan solusi bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat dan bangsanya.

Demikian diungkapkan Ketua Umum FP3I, Muhammad Harun saat memberi kata sambutan pada acara Launching FP3I dan dialog Kepemudaan yang bertemakan: “Menggali Potensi Pemuda demi Kesejahteraan Bangsa dan Negara” di Aula Gedung Juang 45, Jakarta, kamis 29 September 2011.

Menurut  M. Harun, kehadiran FP3I adalah untuk memperluas fungsi dan tugas pers sebagai pembawa pesan, self control dan pilar demokrasi di negeri ini. Sedangkan cakupan Pewarta bukan saja terbatas hanya  kepada para Jurnalis/wartawan, akan tetapi juga meliputi pewarta foto, para kolumnis, pengamat, budayawan, seniman, pekerja media, pekerja social/LSM, masyarakat umum yang peduli tentang nasib rakyat dan bangsa,  karena mereka sesungguhnya para penyampai pesan-pesan kebenaran dan kebaikan ke tengah publik.

“Kedepan tak ada salahnya kalau mereka mau dan bisa memperkuat barisan FP3I, karena organisasi yang masih baru lahir ini tentu akan melakukan konsolidasi sebelum melangkah  jauh melakukan kegiatan-kegiatan yang lain. FP3I konsen dengan kualitas SDM jurnalis termasuk masalah kesejahteraannya,”jelas Bung Harun.

Ditambahkan dengan Harun, pihaknya siap bermitra dengan berbagai kalangan dalam meningkatkan sdm jurnalis serta memperbaiki nasib rakyat, dan bangsa ini dari keterpurukan dan kehancuran akibat berbagai persoalan-persoalan yang rumit, ekonomi, politik, keamanan, dan lain sebagainya.

“Persoalan utama bangsa ini sejatinya adalah terletak pada persoalan mental, dengan contoh banyaknya kasus-kasus korupsi, tindak kekerasan dan aliran sesat di negeri ini. Maka dengan kehadiran FP3I, insha Allah intensitas cakrawala wawasan para jurnalis akan terus ditingkatkan guna ikut ambil bagian dalam memberikan solusi demi kebaikan bangsa dan masyarakat,”pungkasnya..

Acara dilanjutkan dengan dialog Kepemudaan yang memaparkan beberapa topic yaitu: 1) “Menggali Potensi dan Peran Pemuda Indonesia dalam tinjauan Gerakan kemahasiswaan dan Kepemudaan” oleh Ir. Ton Abdillah Haz, Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)  dan 2). Menggali Potensi Pemuda Indonesia dalam Tinjauan Wawasan Kebangsaan oleh Drs. H. Khuzaini Ahmad Tandjung, Ketua Umum Bapindra.

Dalam pembahasannya, Ir. Ton Abdillah Haz menilai bahwa saat sekarang sudah seharusnya lebih banyak lagi ditampilkan kaum muda di atas panggung kehidupan berbangsa dan bernegara dan di setiap struktur kepemimpinan sosial. Karena kita tidak bisa lagi banyak berharap kepada kepemimpinan kaum tua yang banyak mewarisi kehidupan yang serba carut marut, terutama banyaknya penyimpangan dan korupsi.

Menurut Ton Abdillah Haz, hingga tahun kedua pemerintahan ini, harapan (das solen) akan terciptanya pemerintahan yang bersih (clean government) dan baik (good governance) dalam koridor demokrasi tampaknya hanya sekadar jargon dalam kampanye politik dan gagal diaktualisasikan dalam karya nyata (action plan).

“Kenyataan (das sein) warisan rezim sentralistik-otoritarian Orde Baru masih hadir di tengah-tengah kita, dengan indikasi-indikasi nyata, seperti lemahnya penegakan hukum (law enforcement), belum terwujudnya kesejahteraan masyarakat (welfare society) akibat maraknya praktik-praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN), serta rendahnya kualitas kinerja birokrasi sebagai pelayan publik (public servant),”jelas alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Sementara dikalangan pemuda atau kaum muda sendiri, tambah Ton, juga masih banyak persoalan-persoalan yang sedang menghadang seperti korupsi, narkoba, seks bebas, radikalisme, pengangguran, serta kekerasan.

“Hal-hal seperti ini menuntut tanggung jawab kita semua sebagai kaum muda untuk turut serta secara proaktif melakukan kegiatan-kegiatan yang positif  sehingga  persoalan-persoalan negative bisa dieliminir sedini mungkin,”tegas pria asli Riau ini.  

Sementara itu Ketua Umum DPP Bapindra, Drs. H. Khuzairin Ahmad Tandjung mempertanyakan arah reformasi yang berjalan sejak 1998 lalu, kenapa Penataran Pancasila atau yang popular dengan istilah P4 tersebut dihapus? Kenapa dengan alasan memboros-boroskan uang Negara P4 harus dihilangkan?  “Terbukti dengan dihapusnya P4 saat ini korupsi semakin merajalela,”tegas mantan penatar P4 di BP7 kini juga sudah dihapus ini dengan penuh semangat membela orde baru. (diedit ulang oleh: redaksi).

Foto: Ir Ton Abdillah Haz, Suherlan (moderator)  dan Drs. Ahmad Khuzairin Tanjung


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)