Beranda » Opini » Kemiskinan Musuh Laten Negara, Menginspirasi Sajak Iqbal

Selasa, 30 Juli 2019 - 12:04:41 WIB
Kemiskinan Musuh Laten Negara, Menginspirasi Sajak Iqbal
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 270 kali

Kemiskinan Musuh Laten Negara.
 
Gubahlah dunia dengan Amalmu (Allama Muhammad Iqbal)
 
Oleh Dr Mas ud HMN*)
 
Ungkapan atau preposisi yang mengatakan  Kemiskinan  adalah  musuh  negara, benarkah  demikian?.Jika  ya,bagaimana menjelaskannya Apa hubungan kemiskinan  dengan negara.Ini pertanyaan serius.Apa lagi menafikan kemiskinan  musuh negara.
Topik ini. tentu saja, penting.Agaknya tidak berdiri sendiri Terutama untuk melihat hakikat hubungan kemiskinan dan ,pengangguran dalam persfektif Indonesia dengan Muslim sebagai mayoritas penduduk.Lalu dengan komparasi negara lain. Dalam hal ini Cina dengan ideologi komunis sebagai negara sukses mengatasi kemiskinan dengan mengurangi   pengangguran
Satu Setengah Milyar. Mari kita perhatikan. Memang  kemajuan ekonomi Cina yang luar biasa itu dan sungguh mencengangkan. Mengingat tiga tahun belakangan, negara dengan penduduk 1 ½ milyar itu menjadi sontak makmur.Siapa mengira bisa begitu 
Dari kajian empirik para ahli  menemukan bahwa salah satu faktornya karena tidak adanya pengangguran. Jika mau menjadi makmur, hilangkanlah pengguran.Sehingga,tidak salah kalau dikatakan Pengangguran musuh negara. 
 
Musuh negara? Ya.Indikasi ini mengokohkan hal itu.Cina bukan hanya suprise belaka,tetapi juga dengan sekali helaan nafas Cina dapat dua sukses, menjadi  bermartabat  dan melenyapkan pengangguran. Sulit dibantah, Cina telah  berubah,  Rakyat Cina dibawah pemerintahannya,memberi lapangan pekerjaan kepada warga negaranya.Entah sebagai pekerja di fabrik, pedagang atau home industri. Intinya tidak ada penganguran
Sehingga,kalau berbicara  memajukan ekonomi langkah utama dan pertama yang harus dilakukan adalah menghilangkan pengangguran. Dengan meminjam istilah lain  yaitu wajib kerja. 
Inilah yang diberlakukan penguasa Cina. Yaitu mengontrol rakyatnya dengan kewajiban kerja.Mulai dari kerajinan  rumah tangga, tekstil, fabrikan, industri dan lain sebagainya.Sehingga mendekati  zero.
 
Bagai mana di Indonesia? Dari catatan statistik bulan  Agustus 2016, jumlah pengangguran  yang tertinggi adalah provinsi Banten 8.92 percent.Sementara Riau pada posisi ke 7 bertengger 7,43 percent dan Kepulauan Riau posisi ke 4 pada 7.57 percent. Artinya cukup tinggi.Sehingga problem kerja masih harus  dicarikan solusinya

Wajib Kerja Dan Bentuk Syukur
 
Kembali pada soal wajib kerja,dalam persfektif seorang Muslim wajib kerja merupakan  bentuk syukur.Atau bagian dari  terima kasih  terhadap nikmat yang diterimanya. Bukankah manusia telah menerima, nikmat, mendapat peluang, mendapatkan  hikmah dan lain lain. Bersyukur dalam bentuk kerja,dapat menambah atau mengembangkan nikmat atau peluang yang diperoleh. Ibarat pohon, bentuk syukur akan berkembang , bercabang dan berbuah
Untuk lebih rinci tentang pertanyaannya mengapa ada wajib kerja? Hal ini dapat kita telusuri mengapa  orang wajib bekerja, dan tidak boleh menganggur, setidaknya  bisa diawali dengan melihat hal berikut:
 
Pertama ditinjau dari persfektif kemakmuran. Hanya dengan kerja kemakmuran dapat diraih.Belum ada negara yang maju tanpa kerja. 
Demikian juga nasib ditentukan oleh  kerja. Perubahan nasib menjadi lebih baik atau berkemakmuran tidak bisa  dengan menunggu Mesti ada bagaimana  strategi untuk mencapainya 
Jelas semua itu dengan dilaksanakan melalui kerja.Artinya berupaya  dengan sungguh sungguh dengan kerja keras.
 
Kedua, dalam fersfektif martabat, marwah.Hal itu dapat dimisalkan seperti tangan diatas  lebih baik dari tangan dibawah. Kerja akan membawa  orang lebih bermarwah,lebih bermartabat.
Bermartabat orang akan  mendapatkan alqawwy, mendapatkan  keunggulan, kekuatan (power) Dengan power, alqawy, orang menjadi terhormat, berwibawa, bermartabat,
Singkat kata, martabat, marwah bekorelasi dengan kerja.Semakin sungguh seseorang, semakin bermartabatlah dia. Sebaliknya semakin malas seseorang, kurang usaha dan kesungguhannya menjadikan ia tidak memiliki keunggulan,rendah martabat dan marwahnya.
 
Ketiga dilihat dari Persfektif  kriminal. Dengan pengangguran  akan meningkat pula  tindak kejahatan (kriminal). Agama mensinyalir ada korelasi kemiskinan dan pengganguran.Yaitu dari pengangguran melahirkan kriminal. 
 
Semua itu dapat berimplikasi pada tindak perilaku buruk atau kriminal.Termasuk juga munculnya  kufur, ingkar pada ajaran Agama. Bahkan ada  hasdist yang menyatakan kemiskiminan akan membawa kekufuran.
 
Dengan tiga persfektif diatas ,yakni pertama,Kerja berkolerasi positif pada kemamuran. Semakin tinggi ethos kerja seseorang kan  semakin  tinggi kemakmuran yang diperoleh
Kemudian yang kedua, Kerja  berkorelasi  positif pada  martabat. Yakni semakin tinggi tingkat kerja sesorang, semakin  tinggi pula  martabat  pada dirinya.
 
Selanjutnya  ketiga, Kerja  berkorelasi  dengan tingkat  kriminil atau tindak kejahatan.Kurang penggangguran, akan berkurang  tindak kriminal.Sebaliknya kriminal akan tinggi jika tingkat pengganguran tinggi.
 
Wajib Kerja Dan Kemanusiaan
Karena itu  maka, orang  harus bekerja,Dapat disimpulkan kerja itu melekat wajib pada manusia.Atau dengan kata lain Wajib kerja itu  adalah untuk kemanusiaan itu sendiri.
Sebagai mana dikatakan Allama Muhammad Iqbal, Penyair besar asal Pakistan yang menyatakan gubahlah dunia dengan amal mu. Amal berarti kerja,lawan kata dari mengangur. Persfektif gubahlah dunia  dari Iqbal adalah beramal, menciptakan perubahan kearah yang lebih baik, menjadi motivasi umat muslim.
 
Penulis,  setuju dengam Iqbal. Sebab, tanpa kesadaran atau motivasi kuat dunia yang berkemakmuran dan berkemajuan mustahil terwujud. Dengan kesadaran kuat dan motivasi tinggi itu saja, belum tentu kemakmuran dan  kemajuan  dapat diraih. Apalagi kalau motivasi  dan kesadaran tidak ada atau rendah.
 
Penduduk Indonesia yang 250 juta lebih, berapa jumlah yang harus bekerja. Pemerintah harus memikirkannya. Misalkan ada 200 juta.
Memberikan lapangan kerja, bermakna menjadikan, Indonesia untuk lebih baik.Tanpa banyak gembar gembor. Ini jelas tujuannya, dan nyata  implikasinya.
 
Terhadap pernyataan Iqbal, gubahlah dunia dengan amalmu. Gubah bermakna bekreasilah dan berkerjalah. Dunia, bermakna aneka lapangan, aneka bidang. Dapat juga bemakna Indonesia
Gubahlah Indonesia dengan kerja. Yaitu dengan menghilangkan pengangguran. Meng-aneka ragam-kan kreasi kerja dan karya.Dengan landasan teologis amal dunia dan amal akhirat.
 
Akhirnya, dalam persektif Islam tentang kerja sangat jelas   anjurannya. “Bekerjalah untuk dunia dengan giat seoalah olah kamu akan hidup selamanya dan beramallah untuk akhirat seakan kamu akan mati esok hari”.  
 
*) Dr Mas ud HMN adalah Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta.

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)