Beranda » Nasional » Mempertanyakan Kembali Adab Politik Jelang Pesta.Demokrasi 2019

Jumat, 29 Maret 2019 - 15:47:09 WIB
Mempertanyakan Kembali Adab Politik Jelang Pesta.Demokrasi 2019
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Nasional - Dibaca: 358 kali

Mempertanyakan Adab Politik Jelang Pesta Demokrasi 2019


Jakarta, Melayutoday.com,- Lingkar Studi Politik Indonesia (LSPI) menggelar Diskusi Publik dengan tema, _"Islam dan Politik Kebangsaan: Membangun Adab Politik Menuju Pesta Demokrasi 2019”, yang berlangsung Jumat, (29 /3/ 2019) di D Hotel, Jl. Sultan Agung No. 9, Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan. 

Hadir selaku Pembicara antara lain: Ir. Afriansyah Ferry Noor, M.Si (Sekjen Partai Bulan Bintang), Ray Rangkuti (Direktur Eksekutif LIMA) dan Syaiful Arif (Founder Pancasilapedia) dengan Moderator Subairi Muzakki (Peneliti Opapaci Strategic). 

Afriansyah sebagai pembicara pertama mengklaim sebagai partai yang mewakili.partai Islam. " Dalam mewarnai Islam dalam politik PBB punya targret 6 % ," kata sekjen PBB.

Kenapa PBB mendukung Jokowi 01, tambah Afriansyah,  karna disitu ada KH Makruf Amin yang Ketua MUI.

Menurut pengamat Lingkar Madani, Ray Rangkuti, tidak ada garis yang jelas yang menyatakan antara partai Islam dan partai nasionalis. Isunya sama yaitu isu isu umum, misalnya ekonomi, tenaga.kerja, keamanan dan sebagainya.

Sementara Syaiful Arif, Pusat Studi Demokrasi Indonesia mengatakan di pilpres kali ini sesungguhnya tidak ada lagi perdebatan ideologis. " Tapi nampaknya di pemilu saat ini akan mengemuka khususnya dari kalangan yang disebut kelompok radikal," jelas Syaiful.

Syaiful mengkritisi ide NKRI bersyariah Habib Rizieq Shihab, kalau syariah yang dimaksud adalah yang sudah berlaku saat ini seperti pemerintah dalam melayani syariah seperti mengurus tentang haji, zakat , bank syariah, wakaf dan sebagainya.
                                                                                                                "Namun jika yang dimaksud NKRI bersyari'ah itu hukum jinayat pelaksanaan hukum rajam dan potong tangan, maka ini mengkhawatirkan karena Indonesia bukan negara Islam," ungkap founder pancasilapedia. ( M. Harun).

BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)