Beranda » TERPOPULER » Robot Dan Pengembangan Manajemen.

Rabu, 16 Mei 2018 - 22:28:49 WIB
Robot Dan Pengembangan Manajemen.
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: TERPOPULER - Dibaca: 32 kali

Laa buistu li utammimma makarimal akhlak, Tidak diutus (engkau Muhammad) hanya  untuk menyempurnakan akhlak manusia (hadist)

Oleh Dr Mas ud HMN*)

Adanya faktor  akhlak sebagai peran manusia dalam manajemen tetap utama dan penting.Apapun alasannya.Kehidupam manusia tanpa akhlak adalah keliru. Sebab kehidupan manusia tanpa akhlak sama dengan kehidupan dalam  belantara.

 Mungkin tidak semua kita dapat menonton video yang menayangkan robot bernama  Sawjer pelayan  sebuah  Henna Café di Jepang. Sang pelayan menawarkan anda mau minum kopi apa.Lalu ia meracik bahan kopi yang dipesan dan menyeduhnya ke gelas, lalu memberikannya  lansung  ke meja  duduk pelanggan, hal ini  direlees  Liputan 6  edisi 4 February 2018.Ini sebuah  kasus  yang  menarik 

Sebuah gelombang tsunami dahsyat telah terjadi. Karena karena ilmu manajemen tidak lagi menempatkan leadhersip psikology  sebagai sesuatu yang amat  penting dibandingkan dengan factor   menajeman lain. Atau dimensi manejemen bukan  lagi orangmIni jelas sebuah tantangan.Hal itu dengan alasan leadership adalah driver, sementara  yang lain adalah instrument.

Padahal, mustahil adanya instrumen bagus, sedangkan drivernya jelek akan menjelmakan system menejemmn sukses. Sebaliknya bisa saja, instrumen kurang bagus tapi pemimpinya (leader)  bagus  menajemen  berhasil, Personal dapat mengganti instrument,tapi instrument tidak  dapat mengganti  fungsi dan wewenang personal.

Pertanyaanya apa dan bagaimana korelasi leadership psikologi ini, pernah  ditulis Horst Albert Claster dalam bukunya  Tragedical Artificial Human (2011). Ia mencobab meninjau dalam hubungan leader artifisial  dengan keberhasilan manajeman.Mengingat leader tidak lagi semata mata personal orang, tapi juga dapat dimodifikasi dengan inpersonal, seperti robot.Ia, ragu akan kemungkinan apa yang akan terjadi.Apakah    Robot menjadi bagian pola  pengembangan manajemen yang  inpersonal  ?

Implementasi Kepemimpinan

Teori yang menghubungkan dimensi psikology dan leadership atau kepemimpinan terus  berkembang. Seperti dumia mdustri menghubungungkan  psikology kepemimpinan dan dengan manageman. Sukses nya satu konsep managemen  merupakan fungsi dari kepemimpinan.Sebaliknyaa kegagalan  menajemen industry adalah merupakan  gagalnya  implememtasi kepemimpinan. Jepang misalnya, memamfaatkan robot sebagai alat mekanik menjadi pelayan  restoran. Café dengan robot baru (ABC News A go, 5/2,2018)

Tentu saja  sesuatu yang logis bicara soal  pemberdayaan manajemen.Leader dalam mamanjemen adalah pusat  daya yang mengerakkan planning, mengorganisir  personal, dan mengevaluasi terlaksana atau tidak  manajemen secara realitas. Maka tidak salah kalau dikatakan  leader itu adalah otaknya  manajemen  itu

Meminjam  istilah  Shamir Shalby seorang  pakar Psikologi Mesir, bahwa  leadehershif as  work force in manajemen.Ia mengatakan  bahwa kepemimpinan  adalah daya kerja,  daya dorong dalam satu  manejemen system.

Dalam pandangan  ini, leadership tidak lain dari  exclusive  personality. Bagian tak begitu nampak namun beperan penting. Demikian Shamir Shalby seperti direlees oleh media  Mesir, Al Ahram Online 14/2,2018)

Nah, kemudian  persoalannya, bagaimana cara memodifikasi dari kekuatan psikology atau  work force ini dan mengimplemetasikan dalam praktek manejemen.Sudah tentu praktek nya memerlukan sumbangan dari didiplin psikology terapan

Abraham Maslov (1907-1970) mungkin  dapat kita sebut seorang  pakar Psikolog Amerika yang telah menyumbang  kepada  ilmu manajemen. Yaitu dalam arti motivasi seorang individu dalam berbuat. Dalam praktek untuk mencapai apa yang diinginkan individu tersebut

Dalam pandangan Maslov, individu  terdorong oleh motivasi, kebutuhan fisik seperti pangan, pakaian dan tempat tinggal. Lalu pada tingkat berikutnya  individu terdorong untuk mencari jaminana  kemanan.kemudian  individu  ingin eksistensinya diri diakui.

Singkat kata, ada kebutuhan yang mendorong  semangat psikology seseorang untuk berbuat atau bekerja,Yaitu memenuhi kebutuhannnya. Yang pada kebutuhan itu ada peringkat yang tidak sama.

Misalnya  ada yang memerlukan kebutuhan fisik ( pakaian dan Papan), namun ada pula  yang tak membutuhkan yang  demikian itu,Tapi yang lain. Sesuatu yang bersifat psikis (kejiwaan) seperti hiburan. Sehingga psikologi leadership dapat disesuaikan dengan motiv keperluan individu bersangkutam.

Secara generik,  psikiologi  leardershop (PL) adalah  work force (daya dorong kerja). Yang intinya ada  inti kepentingan disitu.Sehingga karena  keberadannya eclusive (tersembunyi) maka wujudnya bisa artifisial.Dengan kata lain bisa menjelma lain kulit  lain isi.

Inilah kemudian menjadi kajian inteligens artfisial. Work force berangkat dari  dan untuk sesuatu yang samar.Disinilah muncul produk menejemen yang melekat pada Robot

Kita mengenal Jepang dengan sebuah  negara yang terus mengembangkan Robot sebagai artisial inteligens . Melalui Robot mempunyai kemampuan  melakukan sessuatu (work force) pada fisiknya, sementara  otak  pengendali ( brain drivenya) terletak  diluar dirinya yakni pada pengendali. Kerja Robot efektif yang serba terkendali dan terukur.

Era Robot Dengan Ektensi Baru

Juga lapangan kerja Robot mulai meluas. Memasuki pelbagai bidang. Mulai dari yang rumit sampai yang biasa biasa saja.

Berkaitan dengan  dirkursus diatas, penulis melihat  bahwa  manajemen telah memasuki era robot ekstensi baru. Dengan kasus  Robot kita  dapat membuat catatan sebagai berikut

Pertama, psikologi leader merupakan  force  penting manajemen. Dalam artian itu motivasi personal amatlah menentukan, Sebagaimana teory Abraham Malov,

Kedua, adanya  intelijensi artifisial  menggerakkan manajemen dengan robot sebagai bentuknya realitasnya ini amat berbeda. Inteligensi robot adalah artifisial, bukan sejatinya.Robot  bisa dan dapat bekerja menlaksanakan tugas atau jobnya.Tapi leader forcenya berada  diluar dirinya,.Teori ini  pernah dintrodusir di Indonesia pada  zaman orde baru,  Teori itu link and macth. Tragedical history, sebuah pengkikisan pada fungsi kemanusiaan yang utuh

Itulah tantangan mananjemen kini.  Satu era pengembangan  manajemen di pesimpangan jalan, Soal  work force berbasis  leadershif intinya pada manusia, dan satu lagi leadersip  intelijenssi artifisial berbasis robot. Kedua bentuk pilihan itu amat terbuka

Penulis  berpihak pada  manajemen berbasis work force, berbasis  personal psikologi. Intinya kita perlu mengembangkan dengan memantapkan peran manusia yang utuh, betapapun kita memerlukan efisiensi dan kemudahan lainnya.

Meminggirkan  manusia menggantinya dengan robot adalah sesuatu yang keliru.Bahkan tidak bertanggung jawab.Fungsi kinerja akhlak mansialah yang harus disempurnakan. Masa depan tidak boleh kita alihkan serta pertaruhkan  pada  non personal.Kalau personal kita reduksi  kepada yang lain,yakni minus akhlak,maknaya menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. maka tunggu saat kehancuran.

 Ini sesuai dengan arah dari ajaran Agama dalam hadist yang berbunyi Inna la buistu li utammima makarimal akhlak.Tidak diutus (engkau Muhammad) hanya semata untuk menyempurnakan akhlak manusia.     Nau’zubillahi min zalik

Jakarta 12 April 2018

*) Dr Mas ud HMN adalah Dosen  Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta.


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)