Beranda » Opini » Menimbang Pernyataan Amien Rais Tentang Partai Allah Dan Partai Syeitan

Rabu, 16 Mei 2018 - 22:18:54 WIB
Menimbang Pernyataan Amien Rais Tentang Partai Allah Dan Partai Syeitan
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 52 kali

Oleh Mas ud HMN*)

Adanya pro kontra penyampaian Amien Rais tentang partai Allah dan partai syeitan dalam menyadarkan umat Islam penting kita dudukkan secara proposional. Perlu  kita hubungkan makna fundamental Jihad,mengingat melawan syeitan mengikuti petujuk Allah itulah intinya jihad tersebut. Claim lain salah besar.

Meminjam istilah Bachtiar Efenddy. Guru Besar Ilmu Politik Islam di UIN Syarif Hidayullah Jakarta, tidak proporsional menghubungkam jihad dan teroris umpamanya, dapat menurunkan makna jihad  sebagaimana orginalnya.Sebab jihad demikian itu adalah claim dari  kaum yang tak proporsional  radical yang  menyodorkan rumusan  yang mengeneralisasi jihad dalam Islam. Padahal, Jihad  yes, radikal  sesuatu yang lain, demikian Bachtiar Effendy (Insight: Essays On Islam And Public Affairs.2008,hal 32)

Tentu saja, respon tidak  dapat sesederhana itu ,apa lagi di hubungkan dengan  latar belakang  Islam dan teroris.Termasuk menghubungkan  lembaga pendidikan Islam dengan  faham teroris. Kajian berkaitan dengan pesntren misalnya  menjadi  kajian yang menantang.

Ia tambahkan  apakah betul, kata Bachtiar jihad  menginspirasi teroris dan radical sebagai bagian spiritnya.Kata  Bachtiar  lagi, suatu irony.”It  is irony  that many imprisoned  terorist have  acces  to high  teach equipment  such as computer or cell  phone to instruction net working” 

Bila tidak betul, maka persoalannya  kembali harus ditempatkan pada  takrif dan pemahaman yang  sesuai dengan tsks  dasarnya. Sehingga  jangan pula kita mencampur baurkan antara teks dan konteksnya.Hal ini berpotensi membawa kekakacauan dalam implikasi yang luas

Amatlah disayangka keadaan inilah yang jadi asal muasal  keributan.Lantaran radicalisme dalam pemahamn yang kacau.Istilah jihad itu adalah berupa teks, tertulis dalam kitab suci al Quran.Siapapun tidak dapat dibenarkan kalaau ia berniat  mau meniadakan, mau menentang, mau menghapus  teksa jihad  tersebut.

Namun ada saja (mereka)  yang mencoba, mau mentryoutkan kata jihad itu dihapus, disingkitkan karena jihad itu membawa spirit pantang mundur, dan memungkinkan tidak ada kompromi. Mereka kalangan penentang dimaksud mengobarkan ajakan panggilan ihad  jangan dibawa bawa, demi kebangsaan, demi  toleransi. Dakwah  jangan dilakukan secara  ektrem.

Tentu ini adalah aneh dan dapat diduga memilik agenda besar  yang menyertainya.Tidak pantas.Kalangan  mereka ini dapat diduga, dan dipercaya dengan meyakinkan bahwa  sesungguhnya mau menukar jihad dengan kompromi.Merekalah yang menciptakan slogan Islam menetntang  idiologi kebangsaan  Pancasila dengan secara samar.Terutama  yang terang benderang dalam rangka  dakwah membuat gagasan agar  dakwah harus dibatasi dengan “ aturan tertentu”.

Taruhannya amat berat dan risiko bagi golongan yang  mau mengungkit nash jihad , apapun alasannya. Sejarah kita memang  syarat dengan tantangngan yang selalu berulang.Karenanya sudah tepat dan sesuai lah lagu relegius yang popular tahun tujuhpuluhan mengumundangkan panggilan jihad tegakkan

Mari kita perhatikan risiko berat yang dihadapai oleh para tokoh pemimpin Islam terdahulu.Itulah tokoh umat Islam Mohammad Natsir masa awal Orde Baru. Ia tidak disukai pemerintah berkuasa.Karena apa,karena Mohammad Natsir menyampaikan protes adanya program Kristenisasi Indonesia.Untuk  jawa 30 tahun dan untuk Indonesia 50 tahun. Caranya dengan mendirikan gereja dimana ada masjid.Juga membagikan uang dan beras bagi kalangan miskin.

Siapa berani. Penguasa kok dilawan.Masa itu pula banyak yangmau  kompromi, merubah prinsip jihad, dengan cara memparkir idealismenya.

Memang kala itu pemerintahan lagi berbaik baik dengan pihak Negara barat dengan janji  membantu pembangunan Indonesia.Kondisi  bersetujunya pemeritah yang berkuasa masa  tersebut, membuat program Kristeniasi  relative lancar.Bayangkan berapa banyak gereja  yang dibangun,meskipun sebagian nya tidak banyak umat kristiani disitu, namun gereja  ada berdiri.

Fakta gereja dibangun dikampung orang Islam  ditentang kaum muslimin, walau disetuji pemerintah sendiri.Maka dalam kaitan ini kita tidak dapat melupakan, interplasi di DPR  dari Lukman Harun yang  terkenaltan asal  dari  tokoh Muhammadiyah. Ia mempersoalkan masalah Kristensasi tersebut, sekaligus bantuan asing  mendukung kebijakan tersebut. Pemerintah juga cukup marah.. Tapi itulah unsur spirit  juang yang  bernama menegakan prinsip dengan panggilan jihad  ditegakkan.

Hemat saya, jika dihadapkan dengan isu belakangan terhadap Amin Rais yang menyebutkan partai Allah dan partai syeitan sama saja   esensinya. Amien Rais dikategorikan salah dalam mengangkat isu  kalangan syeitan dan kalangan partai  Allah.Sebab ada  nash, ada teksnya dalam Al Quran  hizbullah (partai Allah) dan nash  hizbuz syeitan (partai syeitan).Siapa yang tersinggung dengan statemen itu layaknya silahkan berkaca diri sendiri. Jawab sendiri  secara jujur sesungguhnya ada dipihak  golongan,partai  atau kelompok  yang mana.

Dua mash itu yakni partai Allah dimensi maknanya adalah mereka yang mau menegakkan prinsip kebeneran sementara partai  syeitan adalah kalangan yang menolak menegakkan kebenaran atau setidaknya kompromi mereduksi unsur kebenaran dalam jihad  tersebut.

Di atas semua itu, paling tidak kita  dapat mencata  dua hal pentging yaiut

Pertama, penjelajahan pemahaman dari kata jihad  harus diletakkan dalam kategori wahyu dalam kitab Al Quran.Akan ada selamaanya sepanjang zaman tidak dapat diubah.Jangan ada yang meredusir, membelokkan, mencari cari makna yang lain. Jika ada yang melakukan amat berbahaya dalam implikasi luas untuk masyrakat pada umumnya. 

Sejarah kita yang  berdasar peran jujur ikhlas  Mohammadt Natsir, Lukman Harun itulah lambang kebenaran yang dikemas dalam dimensi jihad.Bukan dalam niat untuk merusak kesatuan, kekohan kebangsaan  dan Idiologi Pancasila  yang ada..Demikian juga menghujat Amin Rais ketika dia menginrodusiir  ayat   berasal  nash Al Quran tentang Jihad.Pembelajaran bagi kita semua.

Kedua, soal pembelajaran keliru..Sepantasnya kedepan kita harus berhenti “mengemundangkan kata radikal, mensejalankan makna itu pada  kata intoleransi, teroris”. Sebab  ungkapan tersebut dapat juga menjadi logika  manipulative dari  sejatinya  nash atau teks aslinya. Kalau terjadi  kekeliruan  dalam memahami, kebangsaan yang kita  bangun akan tidak menemukan wujud sejati. Satu pembelajaran keliru. Bangsa menjadi taruhannya. Wallahu aklam bissawab

Jakarta 29 April 2018

*) Masud HMN adalah Doktor Mengajar  di Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta.


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)