Beranda » Opini » Dibalik Ombak Ada Dolar

Selasa, 06 November 2018 - 21:56:54 WIB
Dibalik Ombak Ada Dolar
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 33 kali

Oleh Dr Mas ud HMN*)

Adanya gagasan Rokhmin Dahuri tentang ekonomi kelautan relevan untuk dikaji.  Betulkah ada  gagasan kelautan yang memakmurkan? Agaknya benar. Karena lautan meskipun ada ombak dan gelombang tetapi di balik ombak laut ada (uang) dolar.

Mungkin tidak semua kita ingat siapa saja  tokoh penting nasional tentang kelautan. Mereka adalah pertama Muhktar Kusumaatmaja tentang hukum laut, kedua Djuanda tentang konsep ketahanan Negara (Doktrin Djuanda), dan Rokhmin Dahuri bidang kelautan dalam konsep ekonomi. Pemikiran mereka sangat strategis untuk bangsa Indonesia.

Mukhtar Kusumaatmaja dipandang  sebagai tokoh brilian tentang hukum laut yang gagasannya itu menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan dengan mereduksi batas  negara  dua mil, dari defenisi hukum laut sebelumnya yang berbasis  hukum laut  Negara kontinental. Selanjutnya Doktrin Djuanda menjadikan wilayah termasuk laut di antara pulau menjadi bagian  wawasan ketahanan  nasional nusantara. Lalu kemudian muncul gagasan kelautan Rokhmin Dahuri dalam perspektif kemakmuran ekonomi. Laut sebagai sumber ekonomi memakmurkan bangsa.

Nampaknya ini hal yang patut dikaji. Masalahnya, ada variabel hukum laut ada variabel wawasan ketahanan nasional dan ada variable ekonomi. Singkatnya kelautan dapat dilihat dari tiga sudut pandang tersebut. Maka Indonesia akan beruntung  atau berjaya kalau sukses mengelola hukum laut, sukses memfungsikan doktrin Djuanda dan sukses dalam fungsi ekonomi kelautan.

Sebaliknya Indonesia tidak berjaya bila tak sukses mengelola fungsi korelasi variabel tersebut. Atau malahan menimbulkan masalah. Bukan menguntungkan tapi merugikan. Pada kesempatan ini kita ingin fokus pada sudut  pandang ekonomi kelautan. Mengingat kita bangsa Indonesia ingin menjadi negara  maju dalam pembangunan ekonomi. Salah satunya adalah  pembangunan ekonomi kelautan.

Pertanyaannya apa kabar kelautan kita sekarang ini. Fakta pertama yang kita tangkap adanya bentuk policy berbeda antara Menteri Kelautan  Susi dengan  Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan. Kesan pertama itu membawa gambaran bahwa  di laut kita tidak bersatu.Yang pasti di laut kita bertengkar. Bukan seperti semboyan Yales veva  yaya mahe, di laut kita jaya seperti simbol Tentara Nasional (TNI) Angkatan Laut Indonesia.   

Padahal, kita punya seorang Pemikir kelautan andal yaitu Rokhmin Dahuri.  Ia tegas menyatakan bahwa  kelautan adalah sumber ekonomi  yang bisa menjadi alternatif selain pertanian dan pertambangan. Alasannya, laut Indonesia  selain amat luas, kaya dengan sumber hayati, potensi bahan tambang (mining), juga punya keunggulan, daya energi.

Hal ini diungkapkannya dalam ceramah  di hadapan masyakat Indonesia di Brunei Darussalam pada  awal Oktober 2015 lalu, dimana  penulis ikut hadir. Kami datang memenuhi undangan warga  Indonesia di sana dan bertemu dengan Menteri bidang investasi dan Industri Kerajaan Brunei Darussalam. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu menambahkan di masa depan bangsa kita harus  memberi prioritas kepada  pengembang ekonomi kelautan, demikan Rokhmin  yang juga Guru Besar di Institut Pertanian (IPB) Bogor.

Perspektif Rokhmin adalah jika saja laut sebagai wilayah yang harus digunakan demi   untuk kemakmuran rakyat maka tidak bisa tidak laut harus dikelola dengan benar. Apalagi luas perairan Indonesia itu lebih luas dibanding  luas tanah daratan. Pemberian Allah dan Warisan nenek moyang. Anugerah yang tidak boleh disia-siakan.

Nah itulah! Di samping itu juga, kita harus menyadari potensi perairan laut  kita beragam. Mulai dari berguna jalur transportasi pariwisata. Sumber laut  diolah jadi garam, ada ikan dengan  macam jenis  sebagai sumber protein. Kemudian ada mutiara yang amat mahal harganya.

Sayangnya kita bangsa yang kurang  pandai mengurus laut. Lagipula kita  tidak serius melaksanakan petuah pendahulu, nenek moyang kita. Yaitu, sekali lagi--pesan Yales veva yayamahe. Di laut kita jaya.

Ya benar. Contohnya dalam realitas  di laut bukan berjaya  tetapi sebaliknya  kita berkelahi, bertengkar. Sementara ikan di laut kita dicuri bangsa lain.

Pertengkaran antar  Menteri yang mengurus laut mungkin belum akan berhenti, mengingat  Menteri Susi dengan konsentrasi  menjaga  laut agar tidak dijarah pihak asing  masih kukuh. Sementara  Menkonya yang mengkordinasi bidang Maritim berpikir agar kebijakan menenggelamkan kapal illegal fishing  sebagai bentuk penjagaan laut dihentikan. Belum ada titik temu.

Inilah kondisi riil  policy kelautan kita dewasa ini. Tak searah, tidak kompak, dan bertengkar secara terbuka. Apa sebenarnya yang kita cari. Ini memerlukan jawaban yang solutif.

Di atas semua itu kita berpendapat ada dua hal yang dapat dilakukan yaitu:

Pertama, pendidikan kelautan. Sudah tiba masanya kita memantapkan sebuah konsep pendidikan kelautan dengan tiga sudut pandang, nasionalisme, ketahanan nasional dan ekonomi. Esensinya kita menjadikan laut sesuatu yang kita kuasai dan kita cintai.

Laut merupakan hari depan kita bangsa Indonesia. Kita bergerak mengejar  cita-cita  tersebut. Dengan belajar, memamfaatkan laut sebagaimana mestinya. Sekali lagi, di laut ada ombak  dan gelombang tetapi  di laut ada (uang)  dollar.

Kedua, memprioritaskan pembangunan ekonomi kelautan. Maka Pemerintah harus turun tangan, misalnya industri pengalengan ikan, pariwisata pantai dan hotel, membantu nelayan dalam market jual hasil tangkapan ikan mereka.

Ya sebagai penutup, kita mesti menghargai gagasan ekonomi strategis yang muncul dari  sosok Rokhmin Dahuri yang tanpa henti pula menyuarakan agar  pembangunan ekonomi kelautan diprioritaskan. Tentu saja termasuk menghentikan pertengkaran, saling menyerang satu sama lain secara terbuka. Sebaliknya bekerja bersama, untuk kemajuan rakyat dan bangsa. Mudah-mudahan !

*)Dr Mas ud  adalah Dosen Sekolah Pascasajana Universitas Nuhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta

Jakarta 16 September  2018

Keterangan Foto: Ilustrasi Ketika Kapal Pesiar Dihantam Badai


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)