Beranda » Hukum » Teori Konflik Dalam Perspektif Kasus MCA

Selasa, 13 Maret 2018 - 23:53:27 WIB
Teori Konflik Dalam Perspektif Kasus MCA
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Hukum - Dibaca: 141 kali

Oleh Mas ud HMN

Semakin seriusnya berita  MCA (Muslim Cyber Army)  di Media Sosial, baik cetak maupun elecktronik menambah beratnya kondisi stabilitas  ditahun politik yang akan berlansung September 2018 sampai dengan 2019. Isunya adalah terletak pada  tiga soal pokok(1) kebangkitan komunis dan (2) pembunuhan ulama dan (3) polisi anti Muslim. Semua  isu  itu, berbasis  pada  isu kebencian

Dampaknya dari kebencian  sangat beragam,mulai menggoyahkan stabilitas, menimbulkan kebencian antar pihak, tindakan provokasi emosionil dan lainnya.Karena itu mesti dicari analisis yang dapat memberi   solusi. Semakin cepat semakin baiklah..

Seperti  pembicaraan Radio Elshinta diskusi pagi 4 Maret 2018 pagi, dengan pembicara Ridwan Habib dari Intelijens Institute dengan para pendengarnya.Meskipun Ridwan Habaib belum banyak dikenal, termasuk penulis sendiri, namun ia telah mencoba membentangkan inti persoalan selama ini, Yaitu problem bangsa dalam kaum muslim yang keberadannya mayoritas.

Kata Habib, diskuksi dapat  ,menjadi ”rumput kering|’’ yang mudah terbakar. Membawa  bangsa terpecah belah. Curiga dan saling membenci satu  sama lain.

Lalu kalau diasumsikan, benar kaum komunis bangkit lagi apa yang menjadi argumen utamanya. Jika tidak  apa masalah yang menunggangi keadaan seperti sekarang ini. Ini menjadi  urgen, karena tanpa alasan yang cukup debat ini menghabiskan waktu dan energy. Demikian Ridwan Habib. Yang banyak mendapat sambutan pro dan kontra  para pendengar Elshinta,

Pokok perkara  isu kebangkitan komunis, polisi anti Islam dan pembunuhan ulama, tidak bisa  tidak adalah masalah berat.Telah coba meringankan  isu itu dengan kompromi nasional relegius, meletakkan arti bahwa hubungan agama dan Negara itu adalah sejatinya tidak terpisahkan.Dalam kalangan Islam sendiri telah dibangun faham muslim moderat, pada prinsipnya meniadakan  radikalisme agama dalam bernegara..

Islam moderat difahami  sebagai bagian  gagasan muslim modernis, membentuk keyakinan seyogyanya  haruslah merupakan bagian problem dasar ini. Bagi umat Islam interpretasi menegatasi problem  dengan tekanan pada titik konstitusi dengan  dasar  hukum Islam. Focus itu secara substantive pula untuk merealisasikan keadilan sosial, berasas pandangan keyakina Islam pada seluruh aspek kehidupan.

Namun yang terjadi pengaruh pada persoalan berat hanya  reda sementara, dan tumbuh kembali.Seperti munculnya MCA (Muslim Cyber Army).Satu kelompok radikal melebelkan diri mereka sebagai pejuang dalam media. Yaitu membentuk sikap kebencian kepada pihak yang di stigmakan anti Islam dan komunis

Jika intitusi saling membenci, berhasil akan membuahkan konflik. Itulah logika realistiknya.Siapa yang akan  bertanggung jawab dan siapa  yang akan diuntungkan dan dirugikan. Yang untung  adalah kaum yang berada dibelakang konflik ini, dan yang menanggung risiko adalah Negara dan bangsa, karena  konflik dan pecah belah

Konflik adalah bagian dari  instrument untuk menggoyahkan stabilitas, dengan hilangnya kepecayaan, saling curiga dan sectarian.Dalam  studi empiric, hal ini terbukti bahwa pertentangan, pertikaian dan saling membenci adalah melapetaka. Hal ini menjadi sumbu dari masalah bangsa saat  sekarang.

Slop tiang  pancang dan besaran  masalah adalah Kebangsaan (y)  dan  faktornya  adalah stabiltitas(x1), Sementara konflik (x2), kebencian(x3) ,saling curiga (x4)  merupakan  variable yang ,menentukan. Kebangsaan yang mamtap jika stabilitas  dapat terjaga.Menjaga stabilitas  notasinya adalah meredam konflik,curiga dan  kebencian

Ini dapat dinyatakan bahwa  kebangsaan yang mantap bila factor stabilitas dan dimensinya itu terkendali.

Terhadap ini semua terdapat teori yang membantu menjelaskanmya.Yaitu teori konflik  yang diperkenalkan oleh perjuangan kaum kiri di Eropah pada abad  18. Yaitu terori pertentangan kelas.

Fundament  dari pandangan ini adalah  munculnya feodalisme kaum tanah di Eropah yang milik bangsawan kaya. Mereka menjadi pemegang hegemoni  kekuasaan politik, karena menguasai sumbner daya ekonomi. Dilaian pihak  kaum buruh  sebagai pekerja, menjadi alat  kepentingan mereka secara tidak adil

Teori konflik ini menjadi tesis terkenal dengan pandangan  Karl Marx dan Engels dalam membangun  masyrakat sosialis. Masyrakat sosialis terwujud  apa bila kaum buruh dapat memenangkan pertarungan dengan kaum pemodal (kapitalis) , Hanya konflik jadi instrument. Tanpa  konflik dalam arti perjuangan klas tidak akan ada  perbaikan kaum buruh.

Berdasarkan diskusi ini, maka teori konflik pertentangan klas akan menjadi instrumen perubahan yang dikehendaki kaum kiri atau penganut teori konflik..Teori konflik, curiga, menjadi relevant atau pantas untuk  melihat  hubungannya dengan kasus  Muslim Cyber Army (MCA). Lantaran apa, hanya dengan konflik. Pecah belah saling curiga, mereka dapat menangguk diair keruh, Artinya  suasana ketidak stabilan menjadi  perlu bagi mereka dalam menjalankan programnya..Sebaliknya dalam suasana stabil, mereka alam gagal. Wallahu aklam bissawab.

 

Jakarta 12 Maret 2018

*) Dr Mas ud HMN adalah Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)