Beranda » Ragam Melayu » Memperingati Hari Kanker Sedunia Astra Zeneca Gelar Media Health Forum

Selasa, 06 Februari 2018 - 23:44:22 WIB
Memperingati Hari Kanker Sedunia Astra Zeneca Gelar Media Health Forum
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Ragam Melayu - Dibaca: 1127 kali

Jakarta, Dalam rangka memperingati Hari kanker Sedunia yang jatuh pada tanggal 4 Februari 2018, dan  sebagai hari untuk bersatu melawan kanker, PT AstraZeneca Indonesia (AstraZeneca)  bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information Support Center (CISC) sebagai kelanjutan inisiasi program “Healthy Lung”, yang baru-baru ini diluncurkan dengan menggelar Media Health Forum, Selasa (6/2/2018) di Restoran bebek Bengil  Kawasan Jl. Agus Salim Jakarta.

“AstraZeneca memiliki tujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dengan tidak hanya mengimplementasikan  sains  yang  inovatif  kepada  pasien  dengan  penemuan  obat-obatan  baru, namun juga melalui komitmen kami pada keberlanjutan yang menjadi bagian dari DNA kami. Kami memiliki tujuan yang sama dengan para mitra kami, yaitu membangun kemitraan yang kuat guna meningkatkan  kemampuan  kesehatan,”  ujar         Rizman  Abudaeri,  Pimpinan  PT  AstraZeneca Indonesia.

Kanker paru-paru merupakan penyebab utama kematian terkait penyakit kanker di seluruh dunia. Studi Globocan International Agency for Research on Cancer (IARC) yang terakhir menyebutkan, terdapat 14,1 juta kasus baru kanker dengan jumlah kematian sebesar 8,2 juta. Ditambah lagi, studi dari Globocan (IARC) menemukan bahwa penyakit kanker paru merupakan penyebab kematian utama akibat kanker pada penduduk pria (30%) dan penyebab kematian kedua akibat kanker pada penduduk wanita (11.1%)1. Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar 2013, menyebut prevalensi kanker untuk semua kelompok umur di Indonesia 1,4 per mil atau 347.392 orang.2

Sebuah  studi  di  RS.  Moewardi,  Surakarta,  menunjukkan  bahwa  28,7%  pasien  kanker  paru mengalami kesalahan diagnosa dengan TB pulmonary dan memiliki sejarah pengobatan anti-TB, di mana 73,4% dari pasien tersebut telah menjalani pengobatan anti-TB selama lebih dari 1 bulan namun  hanya  2,5%  yang  terdiagnosis  ganda  menderita  kanker  paru  dengan  TB  pulmonary.3

Menanggapi hal tersebut, dr. Niken Wastu Palupi, MKM, Kepala Subdirektorat Penyakit Kanker dan  Kelainan  Darah,  Direktorat  Pencegahan  dan  Pengendalian  Penyakit  Tidak  Menular, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, mengungkapkan, “Melihat fenomena keterlambatan diagnosa pasien kanker paru, diperlukan kesadaran masyarakat untuk  menyadari  gejala sejak  dini dan berkonsultasi kepada tenaga  medis  untuk  meningkatkan keberhasilan proses penyembuhan. Ditambah lagi, langkah pengendalian penyakit kanker paru di Indonesia memerlukan adanya sinergi kerjasama yang baik dari seluruh lapisan masyarakat.”

“Beberapa inisiatif pun sudah dilakukan baik dari kami selaku pemerintah maupun pihak swasta, tenaga medis dan organisasi pasien. Kami telah melakukan berbagai upaya guna menghambat hal tersebut seperti upaya penyuluhan dan promosi kesehatan serta mensosialisasikan gaya hidup sehat CERDIK (Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin Aktivitas fisik, Diet gizi seimbang, Istirahat cukup dan Kelola stress),” tambah beliau.

Sementara itu dari sisi medis, dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P(K) perwakilan dari PDPI dan RSUP Persahabatan, sekarang ini perkembangan medis sedang dalam era personalized medicine, terapi yang diberikan ke pasien harus sesuai dengan targetnya (targeted therapy). Personalized medicine dan targeted therapy memerlukan biomarker untuk menentukan pasien yang tepat bagi terapi tersebut. Biomarker EGFR (epidermal growth factor receptor) digunakan untuk mengidentifikasi pasien kanker paru, khususnya jenis adenokarsinoma bukan sel kecil, dimana di populasi Asia angka kejadian mutasi EGFR ini sebesar 40-60%.

Sebagai penggiat yang juga merupakan ketua umum Cancer Information Support Center (CISC), Aryanti Baramuli menyatakan, “Salah satu hal yang paling dibutuhkan oleh para pasien kanker adalah dukungan dari lingkungan sekitarnya. Situasi seperti ini bisa mempengaruhi tingkat motivasi para penderita kanker untuk melakukan proses pemulihan. Sehingga menurut kami, upaya bersama oleh seluruh pihak sangat dibutuhkan menuju penanggulangan kanker yang efektif dalam membantu pasien kanker paru di Indonesia dalam meningkatkan harapan dan semangat untuk terus menjalani hidup bersama kanker.” (Hrun).


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)