Beranda » Ekonomi » Kata Rokhmin Dahuri Laut Sumber Ekonomi Masa Depan

Selasa, 23 Januari 2018 - 19:40:08 WIB
Kata Rokhmin Dahuri Laut Sumber Ekonomi Masa Depan
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Ekonomi - Dibaca: 137 kali

Oleh Dr Mas ud HMN

Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas  Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta

Setidaknya terdapat beberapa  tokoh penting nasional tentang kelautan.Mereka antara lain  adalah pertama  Muhktar Kusunaatmaja tentang hukum laut,kedua Djuanda tentang konsep ketahanan Negara (Doktrin Djuanda) dan Rokhmin Dahuri bidang kelautan dalam konsep ekonomi.Pemikiran mereka sangat strategis untuk bangsa Indonesia.

Mukhtar Kusumaatmaja adalah  tokoh brilian tentang hukum laut yang gagasanya itu menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan dengan mereduksi batas  negara  dua mile, dari defenisi hukum laut sebelumnya yamg berbasis  hukum laut  Negara continental.Gagasannya diakui dunia.Selanjutnya Doktrin Djuanda menjadikan wilayah termasuk laut diantara pulau menjadi wilayah bagian  wawasan ketahanan  nasional nusantara .Lalu kemudian muncul gagasan kelautan Rokhmin Dahuri dalam persfektif kemakmuran ekonomi.Laut sebagai sumber ekonomi untuk  memakmurkan bangsa.

Maka masalahnya , ada variabel hukum laut, ada variable wawasan ketahanan nasional dan ada variable ekonomi.Singkatnya kelautan dapat dilihat dari tiga sudut pandang tersebut.Maka Indonesia akan beruntung  atau berjaya kalau sukses mengelola hukum laut, sukses mefungsikan doktrin Djuanda dan sukses dalam fungsi ekonomi kelautan.

Sebaliknya Indonesia tidak berjaya bila tak sukses mengelola fungsi korelasi variable tersebut.Atau malahan menimbulkan masalah.Bukan menguntungkan tapi merugikan. Pada kesempatan ini kita ingin focus pada sudut  pandang ekonomi kelautan. Mengingat kita bangsa Indonesia ingin menjadi negara  maju dalam pembangunan ekonomi.maka salah satunya adalah  pembangunan ekonomi kelautan

Pertanyaan awal,  apa kabar kelautan kita.Jawaban secara umum,ada masalah.Fakta pertama tersiarnya policy berbeda antara Menteri Kelautan  Susi dengan  Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan.Kesan pertama itu membawa gambaran bahwa  dilaut kita tidak bersatu.Yang pasti dilaut kita bertengkar.Bukan seperti semboyan Yales veva  yaya mahe, dilaut kita jaya seperti symbol Tentara Nasional (TNI) Angkatan Laut Indonesia.  

Padahal. kita punya pakar seorang Pemikir kelautan andal yaitu Rokhmin Dahuri.  Ia dengan jelas dan  tegas menyatakan bahwa  kelautan adalah sumber ekonomi  yang bisa menjadi alternative selain pertanian dan pertambangan.Alasannya,laut Indonesia  selain amat luas, kaya dengan sumber hayati, potensi bahan tambang(mining),juga punya keunggulan,daya energy.

Hal ini dungkapkannya dalam ceramah  dihadapan masyakat Indonesia di Brunei Darussalam pada  awal Oktober 2015 lalu, dimana  penulis ikut hadir.Kami datang memenuhi undangan warga  Indonesia di sana dan bertemu dengan Menteri bidang invesrasi dan Industri Kerajaan Brunei Darussalam.Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu menambahkan dimasa depan bangsa kota harus  memberi prioitas kepada  pengembang ekonomi kelautan, Demikan Rokhmin  yang juga Guru Besar di Institut Pertanian (IPB) Bogor.

Persfektif Rokhmin adalah jika saja laut sebagai wilayah yang harus digunakan demi   untuk kemakmuran rakyat maka tidak bisa tidak laut harus dikelola dengan benar.Apa lagi luas perairan Indonesia itu lebih luas dibanding  luas tanah daratan.Pemberian Allah dan Warisan nenek moyang. Anugerah yang tidak boleh disia siakan

Nah itulah ! Disamping itu juga kita  harus menyadari  potensi perairan laut  kita beragam. Mulai dari berguna  jalur transportasi, pariwisata. sumber laut  diolah jadi garam, ada ikan dengan  macam jenis  sebagai sumber protein.Kemudian ada mutiara yang amat mahal harganya.

Hanya sayangnya kita bangsa yang kurang  pandai mengurus laut.Lagi pula kita  tidak serius melaksanakan petuah pendahulu, nenek moyang kita. Yaitu pesan Yales veva yayamahe. Dilaut kita jaya.

Ya benar.Contohnya dalam realitas  dilaut bukan berjaya  tetapi sebaliknya  kita berkelahi, bertengkar.Sementara ikan dilaut kita dicuri bangsa lain.

Pertengkaran antar  Menteri yang mengurus laut mungkin belum akan berhenti, Mengingat  Menteri Susi dengan konsentrasi  menjaga  laut agar tidak dijarah pihak asing  masih kukuh. Sementara  Menkonya yang mengkordinasi bidang Maritim berpikir agar kebijakan menenggelamkan kapal illegal fhising  sebagai bentuk penjagaan laut dihentikan,Belum ada titik temu

Inilah kondisi riil  policy kelautan kita dewasa ini. Tak searah, tidak kompak, dan bertengkar secara terbuka.Apa sebenarnya yang kita cari.Ini memerlukan jawaban yang solutif.

Di atas semua itu  penulis  berpendapat ada dua hal yang dapat dilakukan yaitu

Pertama, pendidikan kelautan. Sudah tiba masanya kita memantapkan sebuah konsep pendidikan kelautan dengan tiga sudut pandang, nasionalisme,ketahanan nasional dan ekonomi.Esensinya kita menjadikan laut sesuatu yang kita kuasai dan kita cintai,Ini untuk jangka panjang

Laut merupakan hari depan kita bangsa Indonesia.Kita bergerak mengejar  cita cita  tersebut.Dengan belajar,memamfaatkan laut sebagai mana mestinya.

Kedua, memprioritaskan pembangunan ekonomi kelautan.Maka Pemerintah harus turun tangan,Misalnya industry pengalengan ikan, pariwisata pantai dan hotel,membantu nelayan dalam market jual hasil tangkapan ikan mereka.

Ya sebagai penutup, kita mesti menghargai gagasan ekonomi strategis yang muncul dari  sosok Rokhmin Dahuri yang tanpa henti pula menyuarakan agar  pembangunan ekonomi kelautan diprioritaskan. Tentu saja termasuk menghentikan pertengkaran, saling menyerang satu sama lain secara terbuka.Sebaliknya bekerja bersama, untuk kemajuan rakyat dan bangsa.Mudah mudahan !

Jakarta 20 Januaru 2018

 

 


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)