Beranda » Artikel » Zeronya Angka Pengangguran,Sebuah Impian

Jumat, 18 Agustus 2017 - 23:38:19 WIB
Zeronya Angka Pengangguran,Sebuah Impian
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Artikel - Dibaca: 331 kali

Oleh Dr Mas ud HMN*)

Zeronya angka pengangguran sebuah impian. Identik dengan prepotition yang mengatakan  pengangguran sebagai faktor ekonomi  adalah  musuh  negara, harus dihilangkan.Seperti itulah pentingnya,  benarkah  demikian?.Jika  ya,bagaimana menjelaskannya. Apa hubungan penganguran dengan negara.Ini hal serius.Apa lagi menafikan pengangguran  musuh negara.

Mari kita perhatikan kemajuan ekonomi Cina yang luar biasa itu dan sungguh mencengangkan.Mengingat tiga tahun belakangan, negara dengan penduduk 1 ½ milyard itu menjadi sontak makmur.Siapa mengira bisa begitu.

Dari kajian empirik para ahli  menemukan bahwa salah satu faktornya karena tidak adanya pengangguran. Jika mau menjadikan negara  makmur, hilangkanlah pengguran.Sehingga,tidak salah kalau ada pendapat yang mengatakan Pengangguran musuh negara.

Musuh negara? Ya.Indikasi ini mengokohkan hal itu.Cina bukan hanya suprise belaka,tetapi juga dengan sekali helaan nafas Cina dapat dua sukses, menjadi  bermartabat  dan melenyapkan pengangguran.

 Sulit dibantah, Cina telah  berubah,  Rakyat Cina dibawah pemerintahannya,memberi lapangan pekerjaan kepada warga negaranya.Entah sebagai pekerja di fabrik, pedagang atau home industri. Intinya tidak ada penganguran

Sehingga,kalau berbicara  memajukan ekonomi langkah utama dan pertama yang harus dilakukan adalah menghilangkan pengangguran. Dengan meminjam istilah lain  yaitu wajib kerja.

Inilah yang diberlakukan penguasa Cina. Yaitu mengontrol rakyatnya dengan kewajiban kerja.Mulai dari kerajinan  rumah tangga, tekstil, fabrikan, industri dan lain sebagainya.Sehingga mendekati  zero.

Bagai mana di Indonesia? Dari catatan statistik bulan  Agustus 2016, jumlah pengangguran  yang tertinggi adalah provinsi Banten 8.92 percent.Sementara Riau pada posisi ke 7 bertengger 7,43 percent dan Kepulauan Riau posisi ke 4 pada 7.57 percent. Artinya cukup tinggi.Sehingga problem kerja masih harus  dicarikan solusinya

Wajib Kerja Dan Bentuk Syukur

Kembali pada soal wajib kerja,dalam persfektif seorang Muslim wajib kerja merupakan  bentuk syukur.Atau bagian dari  terima kasih  terhadap nikmat yang diterimanya. Bukankah manusia telah menerima, nikmat, mendapat peluang, mendapatkan  hikmah dan lain lain.

Bersyukur dalam bentuk kerja,dapat menambah atau mengembangkan nikmat atau peluang yang diperoleh. Ibarat pohon, bentuk syukur akan berkembang ,bercabang dan berbuah

Untuk lebih rinci tentang pertanyaannya mengapa ada wajib kerja? Hal ini dapat kita telusuri mengapa  orang wajib bekerja, dan tidak boleh menganggur, setidaknya  bisa diawali dengan melihat hal berikut

Pertama ditinjau dari persfektif kemakmuran. Hanya dengan kerja kemakmuran dapat diraih.Belum ada negara yang maju tanpa kerja.

Demikian juga nasib ditentukan oleh  kerja. Perubahan nasib menjadi lebih baik atau berkemakmuran tidak bisa  dengan menunggu Mesti ada bagaimana  strategi untuk mencapainya

Jelas semua itu dengan dilaksanakan melalui kerja.Artinya berupaya  dengan sungguh sungguh dengan kerja keras.

Kedua, dalam persfektif martabat, marwah.Hal itu dapat dimisalkan seperti tangan diatas  lebih baik dari tangan dibawah. Kerja akan membawa  orang lebih bermarwah,lebih bermartabat.

Bermartabat orang akan  mendapatkan alqawwy, mendapatkan  keunggulan, kekuatan (power) Dengan power, alqawy, orang menjadi terhormat, berwibawa, bermartabat,

Singkat kata, martabat, marwah bekorelasi dengan kerja.Semakin sungguh seseorang, semakin bermartabatlah dia. Sebaliknya semakin malas seseorang, kurang usaha dan kesungguhannya menjadikan ia tidak memiliki keunggulan,rendah martabat dan marwahnya

Ketiga dilihat dari Persfektif  kriminal. Dengan pengangguran  akan meningkat pula  tindak kejahatan (kriminal). Agama mensinyalir ada korelasi kemiskinan dan pengganguran.Yaitu dari pengangguran melahirkan kriminal.

Semua itu dapat berimplikasi pada tindak perilaku buruk atau kriminal.Termasuk juga munculnya  kufur, ingkar pada ajaran Agama. Bahkan ada  hasdist yang menyatakan kemiskiminan akan membawa kekufuran,

Dengan tiga persfektif diatas ,yakni pertama,Kerja berkolerasi positif pada kemamuran. Semakin tinggi ethos kerja seseorang kan  semakin  tinggi kemakmuran yang diperoleh

Kemudian yang kedua, Kerja  berkorelasi  positif pada  martabat. Yakni semakin tinggi tingkat kerja sesorang, semakin  tinggi pula  martabat  pada dirinya

Selanjutnya  ketiga, Kerja  berkorelasi  dengan tingkat  kriminil atau tindak kejahatan.Kurang penggangguran, akan berkurang  tindak kriminal.Sebaliknya kriminal akan tinggi jika tingkat pengganguran tinggi          

Wajib Kerja Dan Kemanusiaan

Karena itu  maka, orang  harus bekerja,Dapat disimpulkan kerja itu melekat wajib pada manusia.Atau dengan kata lain Wajib kerja itu  adalah untuk kemanusiaan itu sendiri.

Sebagai mana dikatakan Presiden Joko Widodo ( Jokowi) kerja dan kerja. Presiden seringa mengulang ajakan tersebut pda banyak kesempatan. Kerja berarti berbuat, kerja berarti beramal beramal berarti kerja,lawan dari mengangur.

Persfektif kerja dan kerja, ajakan  Presiden maksudnya  menciptakan perubahan kearah yang lebih baik. Ini  menjadi motivasi umat muslim. Menunjukkan upaya sadarnya untuk  rajin,tekun.

Kiita semua harus  mengamini tekad Presiden Jokowi.. Sebabnya tanpa kesadaran atau motivasi kuat dunia yang berkemakmuran dan berkemajuan mustahil. Dengan kesadaran kuat dan motivasi tinggi itu saja, belum tentu kemakmuran dan  berkemajuan  dapat diraih. Apalagi kalau motivasi  dan kesadaran rendah.

Penduduk Indonesia yang 265 juta berapa jumlah yang harus bekerja. Pemerintah harus memikirkannya.Memberikan lapangan kerja, bermakna menjadikan, Indonesia untuk lebih baik.Tanpa banyak gembar gembor. Ini jelas tujuannya, dan nyata  implikasinya.

Terhadap pernyataan Presiden Jokowi, kerja dan kerja, bermakna bekereasilah dan berkerjalah.Dimensi kerja , bermakna aneka lapangan, aneka bidang. Dapat juga bemakna kerja untuk Indonesia

Banunlah Indonesia dengan kerja. Yaitu dengan menghilangkan pengangguran. Menganeka ragamkan kreasi kerja dan karya.Dengn landasan teologis amal dunia dan amal akhirat

Akhirnya, dalam persektif Islam tentang kerja sangat jelas   anjurannya. Yaitu firman Allah yang berbunyi “Bekerjalah untuk dunia dengan giat seoalah olah kamu akan hidup selamanya dan beramallah untuk akhirat seakan kamu akan mati esok hari” ( Al Qur an)

Jakarta 17 Agustus 2017 

*) Dr Mas ud HMN adalah Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta.


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)