Beranda » Artikel » Akan Sia- Siakah Darah Umat Islam Untuk Kemerdekaan?

Minggu, 13 Agustus 2017 - 23:19:31 WIB
Akan Sia- Siakah Darah Umat Islam Untuk Kemerdekaan?
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Artikel - Dibaca: 426 kali

Oleh Mas ud HMN*)

Akan sia siakah darah umat Islam tertumpah  untuk kemerdekaan ? Tentu saja tidak.Meskipun demikian tergantung pada upaya dalam mengisi episode sejarah kemerdekaan selanjutnya.Persoalan ini relevant karena kita banyak lalai dan lupa pesan sejarah.

Sejarah yang difahami menjadi spirit dan disiplin untuk mencapai cita cita, itulah persamaan  antar perjuangan dahulu dan sekarang. Karena zaman itu antara yanga lama, dan sekarang sangat jelas  bedanya.Meminjam istilah sejarawan Mansyur Suryanegara  itulah apinya sejarah.

Tanpa memahami bahwa arti sejarah itu keliru, melenceng atau jauh, menjadi tak bermakna. Atau hanya diartikan sebagai episode masa lalu, identik dengan artefak kuno meseum belaka. Alangkah remehnya sejarah  itu sehingga pantaslah bila dipandang enteng, tak penting.

Itulah yang disesalkan para sejarawan,para pemikir serius. dan ilmuwan sejati. Mereka marah dan kesal.Mengapa bersikap begitu. Ya mengapa demikian. Jika perjuangan para pendahulu, karya  pendiri bangsa, dinilai sepi, disikapi tak terlalu berguna.Indikasi pendurhakaan pada pahlawan

Seperti apa kata Bung Karno, Janganlah melupakan sejarah. Yang ditambahkannya dengan  pesan tangkaplah api sejarah itu dan jangan  tangkap  abunya. Api yang dimaksud adalah esensi, nilai, bobot pengorbanan.

Presiden pertama Indonesia  itu juga menekankan agar menghormati pahlawan.”Bangsa yang besar  adalah bangsa yang menhargai pahlawannya”, kata Sukarno. 

Sama halnya dengan Mansyur Suryanegara seperti kita kutip didepan, memesankan agar  mempelajari “apinya sejarah”. Dalam bukunya  berjudul Apinya Sejarah, ia secara tuntas membentangkan takrif apinya sejarah itu dimotori ulama,dengan mengidentikkan perjuangan pahlawan terdahulu

 Ia  mencatat peran ulama  sebagai bentuk esensi spirit pahlawan bangsa Indonesia.Itulah apinya sejarah, itulah  yang tidak boleh dilupakan..

Ada dua corak pemikir aliran sejarah yang berpihak agar sejarah tidak dilupakan. Pendapat mereka  menntang pandangan sejarah yang hanya  sebagai fakta masa lalu. Sekadar  peristiwa masa lalu yang hanya cukup untuk dimengerti ( history to understand)

Pendapat pertama  adalah history thinking Sam Wineburg.Ia seorang  sejarawan dari University California, Berkley Amerika. Banyak menulis dan menganlisis sejarah sebagai faktor intelektual essensial  perubahan

Ia bependapat dalam Thinking like a Historian bahwa  sejarah itu sebagai fundamntal inteletual subsantive. Esensinya terletak pada point spirit perubahan. Apa yang menjadi faktor, yakni semangat yang tercermin dalam action actor  dizamannya.

Jadi pokok pandangannya adalah apa  inti yang subsantive dari peristiwa sejarah itu.Tentu ibarat bangunan adalah arsitek pelaksana  bangunan itu.Yang corak aliran ini kita namakan rasional thingking of history.

Sejarawan kedua adalah Hamka. Unsur apinya sejarah dalam pandangan Hamka adalah moral dari sejarah.Api sejarah itu identik dengan apa nilai moral peristiwa sejarah itu. Hamka mengakaitkan dengan pandangan sejarah menurut Islam. Yang penting apa mamfaatnya kita mempelajari sejarah

Saya terinspirasi pandangan Hamka, bahwa memhami sejarah kronologis peristiwa urutan waktu dan corak pandangan reasoning (penalaran), mengenai sejarah belum memadai. Padahal seharusnya sejarah harus dapat memberi keasadaran berjuang untuk kebenaran nilai yang lebih baik

Terhadap hal itu saya setuju serta mendukung pendapat tersebut. Dalam disertasi (2014) saya mencoba mengajukan metode pembelajaran sejarah yang saya sebut “Moral Volue of History” dalam melengkapi pemikiran Hamka. Metode itu saju ajukan dalam rangkuman terhubung pada dua dimensi yaitu iktibar(comparative,perbandingan) dan ibrah (bencmarcking,teladan).

Studi saya intinya berpatokan pada amsal kisah  dalam Al Quran menjadi peristiwa sejarah untuk kebenaran.Seperti kisah  Firaun dan Musa. Meskipun Al Quran bukan kitab sejarah, namun menyimpan kisah atau peristiwa sejarah didalamnya

Sejarah harus di analisis, dan tidak berhenti disitu.Analisisnya untuk mengambil nilai yang baik untuk dijadikan teladan.Jadi ada nilai Firaun dan ada nilai Musa. Kita memhami nilai dari sikap Firaun sebagai iktibar , namun kita tidak mengambilnya. Sebaliknya kita mengambil ibrah nilai yang diajarkan Musa. Itulah apinya sejarah.Mengambil dan menegakkan kebenaran

Pada momentum 72 tahun kemerdekaan ini pantaslah kita fahami serta menyadari bahwa bangsa ini  didirikan oleh para pejuang.Kita mempercayai aktor penting  banyak berasal  ulama, menjadi pejuang yang ikhlas berkorban. Mereka  wujudkan bentuk perjuangan tersebut dengan diri, harta dan  segenap kemampuan.

Semua itu bersinergy dengan yang lain. Kita tak dapat melupakan, Bung Tomo tampil dengan keberaniannya.Memobilisir  kekuatan bangsa. Sebagai Muslim ia mengumandangkan takbir Allahu Akbar. Memanggil segenap Muslim untuk melawan dengan segenap jiwa raganya. Peristiwa kepahlawan 10 November 1945 yang tak dapat dilupakan.

Banyak darah pahlawan muslim tertumpah wafat dalam berjuang melawan penjajah merebut kemerdekaan. Akan sia siakah spirit jihad serta darah umat Islam di bumi Indonesia ini.Tentu tidak! Spirit sejarah itulah yang harus kita ambil di masa kini. Dalam perspektif Iktibar dan Ibrah.

Jakarta 13 Agustus 2017.

*) Mas ud HMN adalah Doktor Sejarah Penddikan Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas  Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)