Beranda » Artikel » Jenderal TNI Gatot Nurmantyo Poros Baru Capres 2019

Selasa, 08 Agustus 2017 - 00:23:25 WIB
Jenderal TNI Gatot Nurmantyo Poros Baru Capres 2019
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Artikel - Dibaca: 433 kali

Oleh: Muhammad Harun *)

Semangat demokrasi di era reformasi saat ini merupakan berkah yang harus disyukuri oleh kita semua. Sehingga tidak tepat dan konterproduktif jika ada berbagai pihak yang ingin memadamkan semangat tersebut . Apa pasal? Karena rakyat semakin cerdas dan melek politik dalam berpartisipasi menentukan masa depan dirinya, bangsa  dan Negaranya agar lebih baik.Termasuk dalam menentukan pilihan Capres 2019.

Menanggapi munculnya beberapa capres 2019 yang telah semakin kencang di pentas politik nasional misalnya,  Jokowi yang sekarang menjabat Presiden akan diusung kembali oleh PDIP, Partai Golkar, Nasdem, Hanura, PKB dan PPP. Sementara di kubu lain Prabowo Subianto akan diusung oleh Gerindra, Partai Demokrat, PKS dan PAN.  Kabar tebaru Perindo sebagai partai baru yang belum punya kursi besutan Hary Tanu Sudibjo belakangan ini putar haluan dukung Jokowi . Sinyal yang kuat terjadi  adalah  ada kemungkinan koalisi Gerindra-Partai Demokrat  lewat pertemuan Prabowo-SBY pecan lalu  di Cikeas jika tak berubah akan semakin menghebohkan pertarungan Pilpres 2019.

Jika tak ada perubahan terhadap keberadaan UU Pemilu yang di ketok palu DPR beberapa waktu lalu, maka persyaratan pengajuan Capres-Cawapres 2019 mendatang akan sama persis dengan Pilpres 2014 yang lalu. Dimana kubu patahana Jokowi akan melawan Prabowo Subianto. Kompetitor lama bertemu lagi. Menurut saya ini kurang menantang dan kurang dinamika, kurang seru serta kurang pilihan, karena diprediksi tak  ada pemain baru yang turut bertanding, pemainnya tetap sama yaitu:  Jokowi dan Prabowo.

Yang berubah mungkin formasi calon wakil Presidennya saja. Jokowi pasti mencari Cawapres baru. Prabowo juga akan mencari pendamping baru. Semangat demokrasi bangsa ini sesungguhnya sedang dipertaruhkan ketika kran reformasi memberi peluang yang sama bagi semua anak bangsa untuk menampilkan citra dan kompetensi terbaiknya untuk memimpin bangsa ini agar lebih baik, bermartabat dan berwibawa di mata dunia.

Pilpres 2019 merupakan kesempatan dan momentum adu gagasan, kualitas, kinerja serta kerja terbaik untuk pengabdian serta perjuangan mensejahterakan rakyat Indonesia melalui kekuatan politik dan kepemimpinan yang demokratis, egalitarian serta visioner. Sebab, kehebatan seorang Presiden pilihan rakyat bukan karena pencitraannya yang terus menerus dipoles, juga bukan karena retorikanya yang punya daya tarik di depan rakyat. Namun disana harus ada ketegasan yang disertai kearifan, ada amanah, keadilan dan pemberdayaan terhadap rakyat .

Tulisan ini sebenarnya terbetik ketika ada fungsionaris Partai Nasdem menyodorkan nama Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo untuk mendampingi Joko Widodo menjadi Cawapresnya pada 2019. Lalu tiba tiba muncul pertemuan Cikeas antara Ketua Umum Partai Demokrat (SBY) dengan Ketua Umum Gerindra (Prabowo Subianto). Apakah ini pertanda Pemilu dan Pilpres serentak dengan menggunakan UU Pemilu yang masih kontroversial tersebut atau masih ada peluang semua partai peserta pemilu menyodorkan Capres dan Cawapres 2019?   

Jika rumusan dan prosedur Pemilu dan Pilpres serentak tanpa embel embel syarat 20%-25% untuk pengajuan Capres-Cawapres 2019 ini yang digunakan, maka tentu semua parpol peserta Pemilu dibolehkan mengajukan. Poros baru diluar Jokowi dan Prabowo sangat penting untuk digulirkan sebagai wujud dalam merealisasikan spirit demokrasi dan reformasi untuk menata bangsa dan Negara ini melalui pemimpin baru yang layak, mumpuni dan berintegritas serta dicintai oleh seluruh rakyat Indonesia.   

Perlu disimak bagaimana pernyataan Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Yandri Susanto membeberkan kemungkinan partainya beralih dukungan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019 nanti.  Ia menyebut salah satu opsi yaitu menginginkan agar PAN berkoalisi dengan Gerindra.

"Sekarang yang saya rasakan, ke Pak Jokowi masih ada kemungkinan, tapi tidak besar juga (dukungannya). Artinya, kita bisa berkoalisi dengan Gerindra sangat mungkin, atau PAN memunculkan poros baru," ucap Ketua DPP PAN, Yandri Susanto, saat dihubungi wartawan, Senin (24/7/2017).

Bahkan  pihaknya sudah memunculkan calon presiden alternatif yang akan menjadi pesaing Jokowi, salah satunya Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Menurut anggota DPR RI dan pengurus teras di DPP PAN ini memberikan tawaran alternatif misalkan di luar Pak Jokowi dan Pak Prabowo, alternatifnya itu sudah kami gadang-gadang Pak Gatot (Panglima TNI). Tapi ini kan belum diputuskan di internal partai.

Tulisan ini sesungguhnya hanya memberi catatan bahwa Jenderal Gatot Nurmantyo diujung ujung masa jabatannya sebagai Panglima TNI kian menuai simpati luar biasa dari rakyat ditengah kejenuhan melihat kondisi Pemerintahan Jokowi-JK yang kian memperlihatkan performa tak simpatik dengan berbagai macam kasus yang menerpa bangsa ini. Kondisi dimana Pemerintahan Jokowi-JK kian menjauh dari ummat mayoritas adalah sebuah indikasi kesalahan pendekatan yang dilakukan Jokowi selaku pemimpin di negeri ini.

Bahkan banyak kalangan menggadang gadang supaya  Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menjadi capres 2019 bukan Cawapres. Hal ini suatu usulan yang sangat tepat. Saya sengaja memberikan dorongan kepada semua pihak di negeri ini  terutama partai politik yang akan ikut berhelat di 2019 benar-benar mengkaji secara serius sebelum memilih Capres-cawapres 2019. Untuk itu lewat tulisan ini semoga poros baru, Capres alternative diluar Jokowi dan Prabowo dimunculkan dan saya mengusulkan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo sebagai Capres 2019. Dialah poros baru itu.

*) Penulis adalah Ketua Umum Forum Pengembangan Pewarta Profesional Indonesia (FP3I).     


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)